Problematika Masa Lanjut Usia

PROBLEMATIKA MASA LANJUT USIA

(PROBLEMATIC OF SENESCENCE)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Perkembangan & Bimbingan Peserta Didik yang dibimbing oleh Dr. Gumilar

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) – GARUT

Jl. Pahlawan – Sukagalih 32 Telp. 0262 233556 Garut 44151

2010

PROLEMATIKA MSA LANJUT USIA

(PROBLEMATIC OF SENESCENCE)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan & Bimbingan Peserta Didik yang dibimbing oleh Dr. Gumilar

Disusun oleh,

Asep Rijal (09222041)

Ade Yanto (09221114)

Elsa (09221113)

Ilma Yulianti (09222053)

Wandi Wardiana R (09221112)

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) – GARUT

Jl. Pahlawan – Sukagalih 32 Telp. 0262 233556 Garut 44151

2010

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, disertai puja-puji persembahkan kepada-Nya jua. Shalawat sejahtera bagi nabi besar Muhammad SAW beserta handai tolan, sanak kerabat, sahabat rasul yang mulia, sampai pada kita para pengikutnya. Hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan Judul “Problematika Masa Lanjut Usia (Problemtic of Senescence)”. Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan dan Bimbingan Peserta Didik di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Garut. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan serta dorongan dari berbagai pihak, kecil kemungkinan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

Yth. dosen pembimbing Bapak Dr. Gumilar

Sahabat-sahabat seperjuangan di kelas B beserta seluruh Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Tingkat I yang telah cukup banyak membantu.

Semoga Allah SWT akan memberikan balasan yang berlipat ganda. Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak demi penyempurnaan makalah-makalah selanjutnya.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya.

Garut, Mei 2010

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………………….  i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………  1

1.1.            Latar Balakang ……………………………………………………………………………………..  1

1.2.            Pembatasan Masalah ………………………………………………………………………………  1

1.3.            Rumusan Masalah …………………………………………………………………………………  1

1.4.            Metode Penyunan …………………………………………………………………………………  2

1.5.            Sistematika Penyusunan …………………………………………………………………………  2

BAB II KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………………………………………….  4

2.1.      Pengertian Lanjut Usia …………………………………………………………………………..  4

2.2.      Teori-Teori yang Mempelajari Lanjut Usia ………………………………………………..  6

2.3.      Kesehatan Fisik Lanjut Usia …………………………………………………………………..  8

2.4.      Ciri-Ciri Perubahan Fisik Lanjut Usia ………………………………………………………  8

2.5.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Fisik

Maupun Psikis Lanjut Usia ……………………………………………………………………. 11

BAB III PEMBAHASAN …………………………………………………………………………………… 13

3.1.      Pandangan Positif Terhadap Masa Tua ……………………………………………………. 13

3.2.      Dukungan Keluarga dan Masyarakat ………………………………………………………. 14

3.3.      Tradisi di Indonesia ………………………………………………………………………………. 15

3.4.      Solusi untuk Menghadapi Masa Tua ………………………………………………………… 16

BAB IV KESIMPULAN …………………………………………………………………………………….. 18

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Usia lanjut dipandang sebagai masa yang disertai oleh penderitaan dengan berbagai penyakit, serta kesadaran bahwa setiap orang akan mati, maka kecemasan akan kematian menjadi masalah psikologis yang penting pada lansia. Tidak hanya ancaman kematian saja yang menjadi momok menakutkan bagi usia lanjut namun juga termasuk dengan minimnya hubungan sosial dengan lingkungan sekitar. Seiring dengan bertambahnya usia ancaman penyakitpun semakin meningkat.

Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Secara umum seseorang yang sudah memasuki usia lanjut berkisar pada 60 tahun hingga meninggal. Seperti apa yang kita ketahui bahwa gejala yang muncul pada saat penuaan mulai terlihat kemunduran fisik seperti kulit yang mulai mengkerut, rambut yang memutih, begitu juga menurunnya daya ingat yang dimiliki oleh lanjut usia. Selain itu juga, di masa dewasa akhir atau lanjut usia pasti terjadinya kemunduran dorongan seksualitas yang dapat mengurangi keharmonisan keluarganya.

1.2. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah penyusunan serta supaya tidak terlalu melebar ke materi yang lain, maka kami akan menyimpulkan beberapa masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini, antara lain sebagai berikut :

      Bagaimana definsi lanjut usia atau dewasa akhir?

      Apa pengertian lanjut usia menurut para ahli?

      Bgaimana kesehatan dan perubahan fisik orang dewasa akhir?

      Apa saja ciri-ciri orang lanjut usia?

      Bagaimana tradisi orang lanjut usia di Indonesia?

      Bagaimana solusinya untuk mendapatkan masa akhir hidup yang lebih baik?

1.3. Pembatasan Masalah

Dengan banyaknya masalah yang harus dipahami untuk mempelajari masa akhir hidup atau lanjut usia, maka daripada itu kami akan membatasi beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yakni sebagai berikut :

      Definisi secara umum,

      Definisi dan teori menurut para ahli,

      Kesehatan dan perubahan fisik lanjut usia,

      Ciri fisik orang lanjut usia,

      Tradisi orang lanjut usia di Indonesia,

      Pandangan dan solusi untuk menghadapi masa akhir hidup atau lansia

1.4. Metode Penyusunan

Untuk mempermudah pengumpulan materi dan penyusuan makalah ini maka kami menggunakan beberapa sumber dengan metode sebagai berikut:

      Metode kepustakaan, yaitu metode pencarian data dari media buku atau media cetak lainnya.

      Media elektronika, yaitu metode pencarian data dari media pustaka internet.

1.5. Sistematika Penyusunan

BAB I PENDAHULUAN

1.6.            Latar Balakang

1.7.            Rumusan Masalah

1.8.            Metode Penyunan

1.9.            Sistematika Penyusunan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1.      Pengertian Lanjut Usia

2.2.      Teori-Teori yang Mempelajari Lanjut Usia

2.3.      Kesehatan Fisik Lanjut Usia

2.4.      Ciri-Ciri Perubahan Fisik Lanjut Usia

2.5.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Fisik Maupun Psikis Lanjut Usia

BAB III PEMBAHASAN

3.1.      Pandangan Positif Terhadap Masa Tua

3.2.      Dukungan Keluarga dan Masyarakat

3.3.      Tradisi di Indonesia

3.4.      Solusi untuk Menghadapi Masa Tua

BAB IV KESIMPULAN


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.     Pengertian Lanjut Usia

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan atau juga bisa disebut sebagai akhir dari rentang hidup manusia. Dalam mendefinisikan   batasan   penduduk   lanjut   usia   menurut   Badan   Koordinasi Keluarga  Berencana  Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan  yaitu aspek biologi, aspek  ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998).

Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami  proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada  sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan  ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat.

Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda.  Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber  daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial yang   semakin   menurun.   Akan   tetapi   di  Indonesia penduduk   lanjut   usia menduduki  kelas  sosial  yang  tinggi  yang  harus  dihormati  oleh  warga  muda.

Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah  suatu  masa  dimana  orang  dapat  merasa  puas  dengan  keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang  sebagai  masa  kemunduran, masa  kelemahan  manusiawi dan sosial sangat tersebar  luas  dewasa  ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang member mereka kesempatan-kesempatan  untuk tumbuh  berkembang dan bertekad berbakti. Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikap-sikap yang berkisar antara kepasrahan yang pasif dan pemberontakan, penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini  menjadi  terkunci  dalam  diri  mereka  sendiri  dan dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental mereka sendiri.

Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat ditinjau dari pendekatan kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari berbagai aspek pengelompokan lanjut usia yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis, karena batasan usia ini mudah untuk  diimplementasikan, karena informasi tentang usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.

WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu:

   Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun,

      Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun,

    Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun,

      Dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari. Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan  dalam hidupnya.  Demikian  juga batasan lanjut usia yang tercantum  dalam Undang-Undang  No.4 tahun 1965 tentang pemberian  bantuan penghidupan  orang  jompo,  bahwa  yang  berhak  mendapatkan  bantuan  adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas.

Namun  demikian  masih  terdapat  perbedaan  dalam  menetapkan  batasan usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke dalam penduduk lanjut usia. Dalam penelitan  ini digunakan  batasan umur 56 tahun untuk menyatakan  orang lanjut usia.

2.2.     Teori-teori  yang Mempelajari Lansia

À      Activiy Theory (Teori aktivitas)

À      Disengagement Theory (Teori Pelepasan)

À      Age Stratification Theory (Teori statifikasi usia)

À      Phenomenological Theory (Teori Fenomenologis)

Activiy Theory (Teori aktivitas)

  • Teori paling tua

Terutama dianut oleh Gerontolog sosial, Menurut teori ini aktivitas, khususnya, aktivitas sosial, adalah esensi hidup seseorang, dan terjadi pada setiap orang di setiap tingkatan usia. Kesehatan fisik dan psikologis lansia akan optimal bila mereka tetap aktif dan mampu bersosialisasi.

  • The Roleless Role/Penurunan Peran

ü  Lansia yang masih dapat dan ingin aktif, tetapi masyarakat/lingkungan tidak memberi kesempatan (inactivity).

ü  Lansia merasa hidupnya tidak bermakna.

ü  Lansia berada pada posisi dan situasi tinggal menunggu “pulang”

  • Pendapat Burgess (dalam Haditono, 1993).

ü  Collective action

ü  Bahwa peran sosial yang memberikan makna bagi lansia harus diusahakan sendiri oleh mereka secara kolektif.

ü  Mereka dapat mendirikan asosiasi sbg wadah untuk menyuarakan kepentingan mereka.

ü  Mereka memiliki “tempat” untuk sharing dengan peer-group

ü  Pendapat Rose (dalam Haditono,1993)

Disengagement Theory (Teori Pelepasan)

Teori ini dipelopori oleh Elaine Cumming dan William, E. Henry. Bahwa lansia ingin melepaskan diri dari segala ikatan dan tanggung jawab sosial. Lansia menjadi lebih pasif, aktivitasnya mengarah ke self-directed bukan other directed or goal-oriented.

Ada beberapa hal yang menjadi sumber pelepasan, hal ini dikemukakan oleh Tallcot Parsons dan merupakan dasar teori pelepasan, antara lain:

ü  Masyarakat yang “melepas” lansia karena dianggap sudah kurang memiliki fungsi sosial yang efektif, misalnya di pensiun dari posisinya (pekerjaan dan/atau sosial kemasyarakatan)

ü  Individu yang bersangkutan, bahwa mereka memang sudah menginginkan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab sosial

ü  Fungsionalisme dalam hubungan dengan Pelepasan

ü  Bahwa masyarakat yang pragmatis, memiliki struktur sosial yang kurang menguntungkan bagi lansia

ü  Lansia “diharuskan” mundur oleh masyarakat yang lebih mementingkan kemajuan teknologi dan ekonomi dibanding kemajuan akhlak manusia

ü  Pelepasan merupakan kejadian sosial yang normal, dan bukan merupakan pemaksaan kepada lansia untuk melepaskan diri dari aktivitas sosialnya.

ü  Lansia perlu untuk melepaskan/mengurangi aktivitas dan tanggung jawab sosialnya u/diserahkan kepada generasi penerus, dan lebih berkonsentrasi membina hubungan baru dengan komunitas sebayanya.

Age Stratification Theory (Teori statifikasi usia)

Teori ini dikemukakan oleh Riley dan Baron, yang menyatakan bahwa:

ü  Bahwa masyarakat terbagi dalam kelompok-kelompok usia, setiap individu masuk dalam “kohort” usia tertentu.

ü  Perlakuan masyarakat terhadap lansia berbeda-beda, tergantung masanya.

ü  Kelompok usia memiliki dua dimensi, yaitu pertama dimensi perjalanan hidup dan yang kedua dimensi historis.

Phenomenological Theory (Teori Fenomenologis)

ü  Teori ini memandang bagaimana lansia memberikan arti terhadap kelansiaan mereka.

ü  Bahwa proses menjadi tua akan dihayati secara personal oleh masing-masing individu.

ü  Menggunakan pendekatan interpretatif.

2.3.      Kesehatan Fisik Lansia

Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia. Keadaan fisik merupakan faktor utama dari kegelisahan manusia. Kekuatan fisik, pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai menurun pada tahap-tahap tertentu (Prasetyo,1998). Dengan demikian orang lanjut usia harus menyesuaikan diri kembali dengan  ketidak  berdayaannya.  Kemunduran  fisik ditandai  dengan beberapa  serangan  penyakit  seperti  gangguan  pada sirkulasi  darah, persendian, sistem  pernafasan,   neurologik,   metabolik,   neoplasma   dan  mental.  Sehingga keluhan yang sering terjadi adalah mudah letih, mudah lupa, gangguan saluran pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya  konsentrasi.  Hal ini sesuai dengan pendapat Joseph J. Gallo (1998) mengatakan untuk menkaji fisik pada orang lanjut usia harus dipertimbangkan keberadaannya seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, gerakan yang terbatas, dan waktu respon yang lamban.

Pada  umumnya  pada  masa  lanjut  usia  ini orang  mengalami  penurunan fungsi  kognitif  dan  psikomotorik.  Menurut  Zainudin  (2002)  fungsi  kognitif meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain yang  menyebabkan  reaksi  dan  perilaku  lanjut  usia  menjadi  semakin  lambat. Fungsi   psikomotorik   meliputi   hal-hal   yang   berhubungan   dengan   dorongan kehendak  seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia kurang cekatan.

2.4.     Ciri-Ciri Perubahan Fisik Lanjut Usia

Ciri-ciri perubahan fisik yang terjadi pada periode lansia, yaitu:

 

  1. Pergantian sel-sel tubuh.
  2. Penurunan reproduksi sel-sel.
  3. Perubahan dorongan hubungan seks.
  4. Perkembangan Sensori
  5. Sistem peredaran darah
  6. Sistem pernafasan


  1. a. Pergantian Sel-Sel Tubuh

Perubahan fisik bukan lagi merupakan pertumbuhan tetapi pergantian sel-sel dan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari sakit adalah karena menurunnya mitosis pada lansia (Dixon & Bouma, 1976). Penurunan mitosis menyebabkan kecepatan jumlah sel yang rusak tidak seimbang dengan jumlah sel yang baru. Keadaan ini menyebabkan tubuh lebih banyak ke-hilangan sel, daripada jumlah sel yang baru sebagai pengganti. Dengan demikian lebih banyak fungsi-fungsi tubuh yang terganggu secara dramatis. Khusus organ otak, sel-selnya tidak pernah diganti sepanjang hidup manusia.

  1. b. Penurunan Jumlah Sel-Sel Tubuh

Kehilangan sel-sel tubuh menyebabkan penurunan kekuatan dan efisiensi fungsi tubuh, dan kemampuan indra perasa pada lansia. Perubahan ini terkait dengan perubahan otot, yaitu terjadiiiya penurunan zat kolagen yang berfungsi untuk menjaga elastisitas jaringan otot. Garam kalsium di sekitar jaringan juga menurun terus-menerus yang menyebabkan gerakan otot makin terbatas. Begitu juga dengan penumpukan garam kalsium di dinding pembuluh darah yang mempengaruhi kontraksi dan pengembangannya, sehingga pembuluh darah menjadi kaku. Organ tubuh bagian mata juga menurun fungsinya, karena, berkurangnya koordinasi dan efisiensi fungsi sistem cardio vascular. Lansia juga sulit mengatur fokus matanya, dalam berbicara juga terjadi kelambatan, dan ke-kurang jelasan.

Perubahan fisik lainnya adalah menurunnya cairan dalam sel-sel tubuh, sehingga menyebabkan kulit menjadi keriput. Hal ini dikarenakan pada masa tua terjadi penutunan fungsi organ pencernaan, kurangnya seleramakan, perubahan funsi organ tubuh untuk mengeola makanan misalnya gigi yang tak cukup lagi Marie (1980) mengemukakan bahwa orang lansia hendaknya:

  1. Memakan sayur-sayuran dan buah-buahan yang beragam.
  2. Memakan lalapan sesering mungkin.
  3. Memakan makanan dengan pengolahan yang baik seperti tidak menguliti
  4. mentimun, kentang dan wortel tetapi cukup dengan mengikis atau mencuci saja.
  5. Makanan yang berbentuk bubur.

  1. c. Penurunan Dorongan Seks

Setiap orang butuh dicintai dan dihargai meskipun sudah tua. Penelitian yang dilakukan oleh Master dan Johnson (1968) membenarkan bahwa secara psikologis tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa orang yang sudah tua tidak dapat lagi menikmati hubungan seks dengan pasangannya, bahkan wanita mengalami pembaharuan minat dan kesenangan terhadap hubungan seks (Dixon & Bouma, 1983). Pada wanita menopouse memang terjadi perubahan hormon, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk menikmati hubungan seks. Menurut Butler dan Lewis (Dixon & Bouma, 1983) pria yang dalam periode klimakterium (berkurangnya aktivitas kelamin atau seksual pads pria) biasanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai ereksi (penegangan penis) dan lebih lama jarak waktu periode refactory (waktu antara satu ejakulasi dengan ejakulasi berikutnya), tetapi bukan berarti mereka itu impoten. Dengan kata lain, orgasme menjadi lebih jarang pada laki laki, terjadi dalam setiap 2 sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali. Rangsangan yang lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Diyakini oleh pars ahli bahwa terpeliharanya ekspressi seksual tergantung kepada kesehatan fisik dan mental orang lansia. Jika seorang lansia sehat secara fisik dan mental maka penampilan seksual dapat diperpanjang sampai usia 80 tahun (Master dan Johnson). Sekalipun hubungan seksual terganggu oleh kelemahan, relasi lainnya harus dipertahankan, diantara kedekatan sensualitas, dan nilai sebagai seorang laki laki maupun wanita.

  1. d. Perkembangan Sensori

Perubahan sensori fisik masa dewasa akhir melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasa, pembau, dan indera peraba. Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang rang lanjut usia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.

Penurunan penglihatn ini biasanya dapat dirunut dari pengurangan kualitas dan intensitas cahaya yang mencapai retina. Di puncak usia tua, perubahan ini mungkin disertai oleh perubahan perubahan kemunduran dalam retina, menyebabkan beberapa kesulitan dalam penglihatan.

Meskipun pendengaran dapat mulai pada masa dewasa tengah, hal itu biasanya tidak banyak membawa kesulitan sampai masa dewasa akhir. Pada saat itu banyak sekali alat bantu pendengaran yang bisa dipakai untuk bantuan pendengaran. Tuli, biasanya disebabkan oleh kemunduran selaput telinga, syaraf penerima penerima suara didalam telinga.

Selain berukurangnya penglihatan dan pendengaran juga mengalami penurunan dalam kepekaan rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan rasa manis dan asin.

  1. e. Sistem Peredaran Darah

Tidak lama berselang terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa oleh jantung dengan seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat. Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangakan usia pada masa dewasa. Kenyataannya para ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua dengan kapasitas meningkat bukan menurun.

  1. f. Sistem Pernafasan

Kapasitas akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun tanpa penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu berita baiknya adalah bahwa orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan latihan latihan memperkuat diafragma.

2.5.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Fisik Maupun Psikis Lanjut Usia

Faktor yang mempengaruhi penuaan, seperti yang dikemukakan oleh Usdhew, 1970 (dikutip oleh Kalish, 1975) sebagai berikut:

  1. Faktor genetika; Bagaimana sebenarnya gen-gen mempengaruhi penuaan dalam diri manusia belum diketahui secara pasti. Diyakini, gen menentukan kerentanan seseorang terhadap penyakit tertentu, kemampuan seseorang untuk melawan ausnya berbagai organ tubuh. Makin baik kualitas gen seseorang, diyakini lebih lambat mengalami penuaan
  2. Faktor lingkunganfisik, Lingkungan fisik meliputi hal-hal berikut:

      Keadaan alam. Keadaan alam seperti temperatur atau radiasi, unsur-unsur toxic, seperti air yang terpolusi, tembakau, pestisida dan berbagai jenis bakteri dan mikroba. Semua ini dapat mempengaruhi kesehatan walaupun secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama dan juga mempengaruhi kepuasan atau kebutuhan psikologis dan sosial.

      Gizi. Orang-orang yang kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama sudah tentu memiliki kondisi tubuh yang lemah atau kurang memiliki daya tahan yang baik terhadap berbagai penyakit, kelelahan, kurang kesegaran jasmani, dan sebagainya. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penuaan dini. Orang itu tampak lebih tua dibandingkan dengan orang yang cukup gizi pada usia yang sama. Terlalu banyak makan, khususnya terlalu banyak mengkonsumsi lemak binatang, juga ada kaitannya dengan terjadinya penuaan dini.

      Perawatan medis. Terdapat pengaruh yang berarti antara pemeliharaan kesehatan yang bagus dengan pencegahan penyakit, terhadap panjang usia seseorang. Artinya, orang-orang yang memelihara kesehatan dan melakukan pencegahan penyakit memiliki umur yang lebih panjang dibandingkan dengan orang yang kurang memelihara kesehatan dan kurang melakukan

  1. Pencegahan penyakit. Akan membantu tubuh orang lanjut usia lebih kuat dan bisa bertahan terhadap tekanan.
  2. Faktor latihan dan aktivitas fisik dalam hidup. Kedua hal ini baik sekali untuk mencegah penyakit, sehingga kesehatan terpelihara dengan baik. Oleh karena itu umur akan lebih panjang jika latihan fisik yang teratur, gizi yang cukup, dan aktivitas hidup yang seimbang dengan kebutuhan beristirahat.
  3. Terhindar dari stres. Ketegangan psikologis dapat mempercepat penuaan, sedangkan kesehatan dan kestabi lan cmosi dapat memperlambat penuaan. Ketegangan emosi atau pikiran mempengaruhi sistem sirkulasi darah dan hormon, oleh karena hati dan jantung bekerja dengan cara kurang normal. Akibatnya, kelancaran oksigen mengalir ke otak menjadi lamban, maka otak kekurangan oksigen dan menyebabkan gangguan pada berbagai fungsi tubuh lainnya, di antaranya fungsi pencernaan, jantung dan ginjal. Dengan demikian efisiensi tubu terganggu. Jika mengalami stres dapat menyebabkan perubahan kimia tubuh, yang mengakibatkan menurunnya ketahanan atau kekebalan tubuh terhadap penyakit.


BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Pandangan Positif Terhadap Masa Tua

Dalam menghadapi usia tua, orang-orang tua ataupun siapa saja, hendaknya memiliki pandangan yang positif dan benar tentang masa tua, agar tidak menimbulkan kecemasan atau tingkah laku pesimis yang tidak beralasan, karena:

  1. Masa tua dialami oleh semua makhluk ciptaan Tuhan termasuk manusia. Masa tua bukan dialami oleh sekelompok orang, suku atau bangsa tertentu saja. Oleh karena itu mass tua merupakan peristiwa yang universal.
  2. Menjadi tua adalah peristiwa yang normal setelah manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan peristiwa yang membangga¬kan, namun peristiwa menjadi tua tidak perlu ditakuti.
  3. Sewaktu menghadapi mass tua tingkah laku orang bermacam-macam, karena orang yang telah tua itu mempunyai pribadi yang unik. Keadaan mental dan fisik orang sewaktu mass tua tergantung kepada kesejahteraan yang dirasakannya pada perkembangan sebelumnya dan pola hidup pribadi seperti sikap mental, hubungan sosial, aktivitas fisik dan mental, pola makan atau diet, jumlah waktu dan pengaturan waktu istirahatnya. Disamping itu tingkah laku orang pada masa tua juga dipengaruhi oleh pandangan dan kesan orang itu terhadap kehidupan mass tua orang-orang tua di sekitarnya, tanpa memikirkan kenyataan bahwa tingkah laku orang masa tua itu sangat beragam.
  4. Kematian pada masa tua merupakan suatu yang normal dan merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi. Kenyataan dalam masyarakat, kematian sulit diterima sebagai peristiwa yang normal dan sebagai bagian dari proses kehidupan, terutama bagi orang-orang yang terlalu menikmati duniawi sehingga melupakan kehidupan ukhrawi.
  5. Menjadi tua dan sakit-sakitan bukanlah suatu yang kebetulan tetapi merupakan peristiwa kehidupan yang ada kaitannya dengan cara hidup sebelumnya.
  6. Orang yang berusia lanjut adalah orang yang hidup pada umur 65 – 105 tahun. Oleh karena itu orang yang sudah tua, paling tidak hidup dalam dua generasi, satu generasi sampai berumur 45 tahun.
  7. Orang yang sudah tua dapat belajar, namun pola belajar mereka berbeda dengan anak-anak. Kecepatan belajar menurun, namun masih mempunyai kemampuan mempelajari sesuatu yang baru, maupun yang lama.
  8. Orang yang sudah tua dapat berubah. Memang banyak orang yang mempercayai steriotipe yang menyatakan bahwa orang tua tidak dapat berubah. Kenyataannya, mereka perlu dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaannya yang tidak bekerja lagi, mengatur hidup dengan cara baru, dan pindah ke rumah anak atau ke panti jompo. Jadi, orang yang sudah tua membutuhkan dan berkemampuan melakukan perubahan.
  9. Orang tua ingin selalu mengarahkan diri mereka sendiri, bukan tergantung kepada orang lain. Mereka tetap ingin mempunyai sumber keuangan sendiri dan membelanjakannya untuk kebutuhan sendiri, melakukan sesuatu secara sendiri untuk kepentingan sendiri, mengisi waktu senggang dengan kegiatan yang disenangi bahkan ikut kegiatan sosial yang mereka sukai. Keinginan mengarahkan diri sendiri merupakan cara penting bagi mereka untuk menjaga harga diri.

10.  Orang tua merupakan orang yang sangat berguna bagi kita, jika kita menilai mereka secara positif. Keterbatasan fisik orang yang sudah tua, bukan berarti menyebabkan mereka tidak berguna, karena mereka memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam berbagai bidang kehidupan. Pengalaman mereka itu dapat kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran. Cara-cara mengatasi kehidupan yang sulit dapat kita pelajari dari mereka, apalagi kalau dulunya mereka seorang yang profesional.

3.2. Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Bagi lanjut usia, keluarga merupakan sumber kepuasaan. Data awal yang diambil oleh peneliti terhadap lanjut usia berusia 50, 60 dan 70 tahun di kelurahan Jambangan menyatakan  bahwa mereka ingin tinggal di tengah-tengah  keluarga. Mereka tidak ingin tinggal di Panti Werdha. Para lanjut usia merasa bahwa kehidupan mereka sudah lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek, dan nenek. Mereka dapat berperan dengan berbagai gaya, yaitu gaya formal, gaya bermain, gaya pengganti orang tua, gaya bijak, gaya orang luar, dimana   setiap gaya membawa keuntungan dan kerugian masing-masing. Akan tetapi keluarga dapat menjadi frustasi bagi orang lanjut usia. Hal ini terjadi jika ada hambatan komunikasi  antara lanjut usia dengan anak atau cucu dimana perbedaan  faktor generasi memegang peranan

Sistem pendukung lanjut usia ada tiga komponen menurut Joseph. J Gallo (1998), yaitu jaringan-jaringan informal, sistem pendukung formal dan dukungan-dukungan  semiformal. Jaringan pendukung informal meliputi keluarga dan kawan-kawan. Sistem pendukung formal meliputi  tim keamanan sosial setempat, program-program medikasi dan kesejahteraan sosial.   Dukungan- dukungan  semiformal  meliputi  bantuan-bantuan  dan  interaksi  yang  disediakan oleh organisasi  lingkungan  sekitar  seperti  perkumpulan  pengajian,  gereja,  atau perkumpulan warga lansia setempat.

Sumber-sumber dukungan-dukungan informal biasanya dipilih oleh lanjut usia sendiri. Seringkali berdasar pada hubungan yang telah terjalin sekian lama. Sistem pendukung  formal terdiri dari program  Keamanan  Sosial, badan medis, dan Yayasan Sosial. Program ini berperan penting dalam ekonomi serta kesejahteraan  sosial lanjut usia, khususnya  dalam gerakan masyarakat  industri, dimana anak-anak bergerak menjauh dari orangtua mereka. Kelompok-kelompok pendukung semiformal, seperti kelompok-kelompok pengajian, kelompok- kelompok gereja, organisasi lingkungan sekitar, klub-klub dan pusat perkumpulan warga senior setempat merupakan sumber-sumber dukungan sosial yang penting bagi lanjut usia.

Lanjut  usia  harus  mengambil  langkah  awal  untuk  mengikuti  sumber- sumber dukungan di atas. Dorongan, semangat atau bantuan dari anggota-anggota keluarga, masyarakat, sangat dibutuhkan oleh lanjut usia. Jenis-jenis bantuan informal, formal, dan semiformal  apa sajakah yang tersedia bagi lanjut usia yang terkait pada masa lampaunya.

3.3. Tradisi di Indonesia

Di  Indonesia  umumnya  memasuki  usia  lanjut  tidak  perlu  dirisaukan. Mereka cukup aman karena anak atau saudara-saudara yang lainnya masih merupakan jaminan yang baik bagi orang tuanya. Anak berkewajiban menyantuni orang  tua  yang  sudah  tidak  dapat  mengurus  dirinya  sendiri. Nilai  ini  masih berlaku, memang anak wajib memberikan kasih sayangnya kepada orang tua sebagaimana mereka dapatkan ketika mereka masih kecil. Para usia lanjut mempunyai peranan yang menonjol sebagai seorang yang “dituakan”, bijak dan berpengalaman, pembuat keputusan, dan kaya pengetahuan. Mereka  sering berperan sebagai model bagi generasi muda, walaupun sebetulnya banyak diantara mereka tidak mempunyai pendidikan formal

Pengalaman hidup lanjut usia merupakan pewaris nilai-nilai sosal budaya sehingga  dapat menjadi panutan bagi kesinambungan  kehidupan  bermasyarakat dan berbudaya. Walaupun sangat sulit untuk mengukur berapa besar produktivitas budaya yang dimiliki orang  lanjut  usia,  tetapi  produktivitas   tersebut  dapat dirasakan manfaatnya oleh para generasi penerus mereka (Yasa, 1999). Salah satu produktivitas  budaya  yang  dimiliki  lanjut  usia  adalah  sikap  suka  memberi.

Memberi adalah suatu bentuk komunikasi manusia. Dengan hubungan itu manusia memberikan  arti  kepada  dirinya,  dan  juga  kepada  sesamanya  (Sumarjo,1997). Dasar perbuatan memberi adalah cinta kasih , perhatian, pengenalan, dan simpati terhadap  sesama.  Itu  berarti  seseorang  perduli  kepada  orang  lain  dan  ingin menolong orang lain untuk mengembangkan dirinya. Lanjut usia dapat memberi kepada orang lain/generasi muda dalam wujud pengetahuan, pikiran, tenaga perbuatan, selain memberikan apa yang dimiliki.

3.4 Solusi untuk Menghadapi Masa Tua

  1. 1. Masuk ke dalam posisi mereka

Penurunan fisik secara perlahan-lahan karena termakan usia bisa menimbulkan depresi tersendiri. Bayangkan apa yang akan kita alami ketika kenyataan itu terjadi pada diri kita, dengan begitu, kita bisa memahami apa yang dirasakan dan dialami orang tua.

  1. 2. Dorong mereka untuk mencoba hal-hal baru

Orang-orang yang sudah jompo sering terpaku pada hal-hal yang tidak mungkin mereka capai, karena itu bawalah mereka mencoba hal-hal baru yang memungkinkan bagi mereka.

  1. 3. Sepakati aturan-aturan dasar tertentu

Bila tidak mau dikunjungi terus-menerus setiap sore untuk diajak ngobrol, buatlah kesepakatan mengenai waktu dan frekuensi pertemuan yang memungkinan dengan kedua orang tua.

  1. 4. Menerima hadiah dari mereka

Orang-orang berusia lanjut sangat senang memberi sesuatu kepada orang lain. Terimalah pemberian mereka, tapi juga bersiap-siaplah untuk mengembalikannya suatu ketika nanti, jika dibutuhkan.

  1. 5. Biarkan mereka terus aktif

Walaupun sendi-sendi mereka sudah lemah, tak berdaya, dan sudah tidak bisa berlari, ada baiknya kita mendorong mereka terus aktif bergerak. Ini sama dengan memotivasi mereka untuk tetap bersikap mandiri.

  1. 6. Jangan terbawa pertimbangan emosional

Ini hal yang sangat sulit. Kita tidak harus merawat orang tua saat mereka sudah tua hanya karena dulu mereka menyeboki kita saat masih bayi. Ada banyak cara untuk membantu, tapi jangan sampai kita menjadi tukang rawat mereka, lain hal kalau itu menjadi bagian rencana hidup pribadi.

  1. 7. Sabar mendengar cerita favorit orang tua yang diulang-ulang

Pada usia lanjut, kisah cerita dan anekdot favorit orang tua biasanya akan selalu diceritakan berulang kali. Kita perlu sabar dan membiarkan mereka menceritakannya berkali-kali.

  1. 8. Jawab pertanyaan-pertanyaan hakiki mengenai hidup

Orang tua yang sudah renta memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentmgnya moralitas daripada sebelumnya. Kematian merupakan hal yang menakutkan, karena itu dorong orang tua kita untuk mendalami iman atau kehidupan rohani jika mereka menganut ajaran tertentu.


BAB IV

KESIMPULAN

Masa lanjut usia sering disebut juga sebagai masa dewasa akhir yang merupakan rentang kehidupan terakhir manusia di atas bumi. Berbagai pengertian tentang usia lanjut adalah sebagai berikut:

  1. Secara kronologis, usia lanjut dinyatakan sebagai orang yang telah berumur 60 atau 65 tahun ke atas (Kalish, 1975; Bischof, 1976; Hurlock, 1980; Dixon dan Bouma, 1976). Dasar menentukan umur ini sebagai masa tua adalah alasan ekonomi, seperti: mereka sudah harus pensiun, pajak penghasilan yang sudah ditiadakan dan telah merupakan persetujuan yang me-masyarakat di negara kita ini
  2. Diartikan sebagai perubahan fisik yang menonjol seperti perubahan postur tubuh, gaya berjalan, roman muka, warna rambut, suara, kekenyalan kulit, kemampuan pendengaran dan penglihatan. Demikian juga terjadinya perubahan kesehatan secara keseluruhan yaitu kurang sehat atau mengalami macam-macam keluhan penyakit.
  3. Diartikan sebagai perubahan tingkah laku, yaitu orang yang sudah tua, menjadi pelupa, reaksi terhadap rangsangan yang makin lamban, perubahan pola tidur, gerakan motorik yang lamban dan sebagainya. Sering dipercaya (streotipe) bahwa orang yang sudah tua itu suka memusuhi generasi muda, konservatif (mempertahankan cara-cara lama dan tidak ingin pembaruan) dan menjengkelkan.
  4. Dari segi peranan sosial orang yang sudah tua disebut sebagai orang telah dipensiunkan dalam berbagai tuntutan sosial, dan ditempatkan dalam rumah-rumah pemeliharaan kesehatan, sudah menjadi nenek dan kakek. Proses menjadi tua kadang-kadang menyenangkan, kadang kadang kurang menyenangkan, namun yang pasti menjadi tua tidak terelakkan, karena merupakan proses yang alami. Proses pemuasan bukan merupakan proses patologis atau menyimpang, kecuali kalau proses perkembangan individu yang menjadi tua itu terganggu mulai dari bayi, masa prasekolah,remaja dan pada usia pertengahan mengalami kondisi yang menyimpang (Erikson, 1963). Hal ini dikemukakan untuk menyadarkan kita semua bahwa masa tua sangat erat kaitannya dengan perkembangan masa lalu seseorang atau dengan kata lain perkembangan seseorang merupakan proses berkelanjutan.

Masa tua merupakan sebuah kepastian. “Dia” akan datang tanpa kita undang, sehingga sebelum hal itu terjadi dalam hidup alangkah baiknya kita mempersiapkannya dengan matang. Berikut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka mempersiapkan masa tua yang lebih baik.

Cara – cara untuk hidup yang lebih baik dimasa tua

  1. Masa tua adalah jangka waktu yang paling panjang, sadari bahwa banyak orang yang berumur lebih dari biasa, misalnya 100 tahun.
  2. Taklukan inflasi. Generasi – generasi seblemunya telah berjuang menabung sebanyak mungkin untuk hidup, namun semua itu hancur karena inflasi. Diskusikan dengan para penasehat atau konsultan pribadi bagaimana membangun kehidupan masa tua yang bebas dari pengaruh arus inflasi. Jangan semata-mata bersandar pada dana pensiunan.
  3. Terus menabung.
  4. Pertahankan rumah.
  5. Pertahankan hubungan-hubungan atau relasi atau pertemanan.
  6. Jaga kesehatan, investasi untuk kebugaran saat tua.
  7. Sediakan tempat tenang untuk masa tua, seperti bungalow di tepi pantai.
  8. Diskusikan rencana masa depan dengan anak-anak.
  9. Diskusikan apa yang harus dilakukan jika nanti ditinggal pasangan terlebih dahulu.

10.  Buat surat wasiat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Pratitno, Elida. 2006, Psikologi Orang Dewasa. Angkasa Raya. Padang

http://r-doc.blogspot.com

Juliani Prasetyaningrum. 2009

http://www.psikologizone.com/perkembangan-fisik-masa-dewasa-akhir

http://www.psikologizone.com/perkembangan-kognitif-masa-dewasa-akhir

http://sports.groups.yahoo.com/group/silatindonesia/message/5087

http://gigihpribadi.blogspot.com/2009/02/ayo-kita-persiapkan-masa-tua-di-saat_6820.html

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/07/01/23/234498/keindahan-menikmati-masa-tua

Komentar
  1. Mar'atul Muti'ah mengatakan:

    Copy Ya.. Thanks

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s